Friday, June 6, 2014

#240 Expectations


They say; start the day with something sweet and end it with something sweeter. I am trying to live by it, though more often than ever I tripped myself and fell. I missed how I used to write a lot without having a pause, because the idea just kept coming. Somehow, that time seems like ages ago. Eheh.

Anyway. I am here today after a while because of expectations. I was reminded of an incident, maybe eight years ago? I used to text a friend. Wanting to be perfect in front of him, I always thought very carefully before saying or writing anything to him. And one day, texting him made me realized that, although of the same age, we have this very huge gap of ways of thinking. My daily conversation with my girlfriends was about novels, dramas, boys and for me it was completely normal. While what he thought, texted and talked about was something that I wasn't used to, like the current issues of the country. I thought he was just more mature than he should be. However, it turned out that it was me, who didn't grow up fulfilling the expectation of the world.

Expectations. I am not talking about what our parents' expectations are of us, or what our expectations are of ourselves. This is about the the world's, the norm's expectations of us. the age of eight, you should have already known how to solve simple mathematics. By the age of eighteen, the country's issues should be included in your daily conversation. This kind of expectation. Ugh, why am I having the feeling that no one will really get what I am saying now? >.<

I am somehow bothered by this expectation again. At the age of 24. The world's expectation for a 24-year-old would be; graduating, working, getting married, buying a car or even a house. A friend shared this article; 25 Things Every Woman Should Have By The Time She Turns 25

Now tell me how am I not thinking about this expectation? I don't even know whether this is a good thing or not; knowing there's so much more to fulfill should give us the drive to work harder to fulfill them. But at the same time, knowing others your age have fulfilled them yet you are still the one trying...


But, living in your own unique way, isn't that also nice? Well, this might sound rebellious. But just because the world is like that, should we become that way as well? Who made the rule that to be successful you need to have a piece of paper called degree? Well, it may help but it doesn't mean those without it aren't successful.

This is the problem of the world. We measure people's success by how much money they make. We think someone should be respected when they graduated from prestigious colleges. We measure people superficially. Those superficial qualifications matter, but they are not what matter most.

"O mankind, indeed We have created you from male and female and made you people and tribes that you may know one another. Indeed the most nobel of you in the sight of Allah is the most righteous of you. Indeed, Allah is Knowing and Acquainted."

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."


What are people's expectations, or the world's expectations if Allah doesn't even count any of them?

So yeah Shiela. Don't be depressed seeing your friends moving forward faster than you. Do your best in whatever given to you, and the priority is not for the world to acknowledge you, but Allah. InsyaAllah. 

Tuesday, May 6, 2014



Ya Allah, ikhlaskanlah hatiku, pimpinlah aku ke arah keredhaan-Mu.

Study of human. What do we call that? Humanology? Eheh. Macam pelik kita ambil degree, master sampai ke tahap professor nun tentang pelbagai perkara, tapi tentang diri sendiri pun kita masih belum betul-betul kenal.

Setelah lebih tiga bulan blog ni menyepi, hari ni saya terpanggil untuk berkongsi sesuatu tentang diri sendiri. Ini mungkin bukan fakta, dan mungkin tak melibatkan siapa-siapa, tapi ini pengamatan lemah saya ke atas segelintir golongan manusia.

Manusia; which is kita, dilahirkan dengan mempunyai perasaan untuk menyayangi diri sendiri lebih dari orang lain. Hence, it's in our nature untuk melebihkan diri sendiri dan lebih memberi perhatian ke atas diri sendiri.

Contoh: cuba ambil gambar beramai-ramai. Kemudian, ramai-ramai tu pun akan berebut-rebut nak tengok gambar yang diambil. Apa yang ditengok pada gambar tu? Diri masing-masing. Ready ke tak ke..mata pejam ke tak ke..tudung senget ke tak ke..cantik ke tak cantik ke.. Ada ke orang yang tengok gambar orang lain dulu sebelum tengok gambar diri sendiri? Mungkinlah ada. ^^

Kita juga lebih suka bercerita tentang diri sendiri berbanding mendengar cerita orang lain. Kita senang menghargai mereka yang sudi meluangkan masa mendengar cerita kita, kerana menjadi pendengar yang baik itu bukan satu bakat yang kita dilahirkan dengannya, malah satu kesedaran yang terhasil apabila kita melebihkan orang lain daripada diri sendiri. Dan bukan semua yang mendengar itu benar-benar mendengar kerana mereka mengambil berat. Ada yang sekadar ingin tahu, dan ada yang dalam hatinya, membandingkan kisah kehidupannya dengan kisah yang didengarinya. (Eh, ini research okay. People may likely gain our trust and may favor us if we listen to their stories.) 

Akhirnya, walau bagaimana sekalipun tingkah laku kita, niat yang bakal menentukan segala-galanya. Janganlah kita menghakimi manusia, kerana keikhlasannya tidak mampu kita ukuri. Cuba sedaya upaya untuk berlapang dada. 

Sakit, bila rasa asyik kita sahaja yang mendengar, tiada yang mahu menyahut panggilan kita. Sakit, bila rasa asyik kita sahaja yang mengalah, tiada yang mahu mengambil berat perihal kita. Sakit, bila rasa asyik kita sahaja yang cuba membantu, tiada yang mahu mempedulikan kesusahan kita. 

Sakit itu, kerana kita meletakkan diri kita sendiri sebagai paksi kehidupan kita. Sedangkan paksi kehidupan kita bukanlah kita. Dunia tidak berputar mengelilingi kita, malah dunia langsung tidak memerlukan kita untuk berfungsi seperti biasa. Maka, betapa angkuhnya kita bila kita rasa perhatian itu berhak menjadi milik kita! Betapa angkuhnya kita bila kita rasa situasi kita lebih penting daripada situasi lain-lain manusia! Betapa angkuhnya kita bila sepanjang masa hanya tentang diri kita sahaja yang bermain di kepala!

Dunia bukan hanya ada kita. Dunia juga ada manusia yang memerlukan kita. Dunia bukan hanya tentang kita. Dunia juga ada manusia yang lebih perlu kita berikan perhatian padanya. Apa sangatlah masalah kita bila dibandingkan dengan umat manusia yang di tengah-tengah medan perang dan kelaparan sana? Oh, saya tahu ujian itu Allah beri mengikut kadar kemampuan kita dan tidak layak untuk kita membanding-bandingkan antara satu ujian dengan ujian yang lain.

Namun, saya rasa saya perlu juga melakukan perbandingan itu saat ini. Supaya saya sedar, pada nikmat Allah yang tidak pernah putus ke atas saya. Supaya saya sedar saya masih beruntung jika diukur dengan neraca dunia. Walhal kalau diukur dengan neraca takwa Allah swt, entah di mana agaknya kedudukan saya. Belajarlah menghitung nikmat, bukan musibah. Dengan cara itu, kita akan lebih belajar menjadi manusia yang bersyukur. Dengan cara itu, kita akan lebih menghargai kehidupan kita dan kehidupan manusia yang lain. InsyaAllah.

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." -doa Nabi Sulaiman, 27:19.

Wednesday, April 30, 2014



Almost four months without a single post. I actually have two drafts waiting to be posted but I just couldn't bring myself to finish either. I have some very serious procrastination problems.

It's this time of the year. Psychiatry rotation. The doctor said that in Poland, (and maybe other four-seasons country as well), depressed patients have more recurrent frequency in spring. Little that I know, of all the clinical rotations I've had, this is the one rotation I am getting myself all hypochondriac on. >.<

I have two conclusions to share. You may agree on it, or you may not. Suit yourself.

1. All the hypo- and the hyper- are pathologic. Er, this isn't really a conclusion, it's more of something that I came to realize upon today.

2. Psychiatric disorders are called as such because they impair the normal daily activities and clear judgements of a person. If they don't affect a person's normal life, the person can be crazy but will still be called normal; which is why I personally think that: everyone, within themselves have actually psychiatric disorders that are hidden behind the so-called norms of the world.

I did a depression evaluation test last night and my result was moderate depression. =.= 

Don't worry, I do not believe that I have moderate depression though being a hypochondriac medical student, I do think that I have some symptoms of minor depression.

1. I am blaming everything and everyone for my sadness and my emotional roller coaster ride.
2. I feel like no one really cares about me, that no one really has the sincerity of listening to me because they actually cared.
3. Okay, this one is a symptom of mania; so maybe I have bipolar instead? I tend to shop excessively sometimes, on food. 
4. My daily activities sometimes are disrupted due to my procrastination problems and my attitude of escaping from responsibilities.
5. I have hypersomnolence. When I said hyper, it is because it IS hyper.
6. I don't think this is a symptom of depression but it worries me: I kept thinking about rebelling. 

Well, after a while, I decided not to diagnose myself with depression, but a more serious syndrome. It is called futur.

A syndrome where our iman had a breakdown and decreases, and since iman isn't something we can measure, it is manifested by our amal. Somehow, it is not the amal that actually convinced me that I have this syndrome, instead it is my feeling. What I feel when I pray. What I feel when I read the Quran. What I feel during usrah. God, how long has it been since I cried repenting? How long has it been since I smiled at the sweetness of Allah talking to me? How long has it been since I actually believed Allah is with me? Astaghfirullahaladzim.

Surah Muzammil. One surah, with a persuading tone, asking those who are working in the cause of Allah, to never forget to take care of their relationship with the God. It is a surah with a deep meaning, engraved so deep in my heart because somehow I think it is a surah for someone like me. It is meant for someone like me. It is for me. 

Shiela, futur is way more dangerous than depression, no? How will you treat yourself?Diagnosing it is just the first step, treating it will possibly need you to do some sacrifice. 
But isn't it worth it? For Him? For His blessing? For His heaven? 

Life's but a walking shadow. It's temporary. It has no permanent meaning. Leave it. For a better life.

Yet, another symptom of depression. I want to die. But not as someone who commits suicide, but insyaAllah, ya Allah, grant me syahid.

Sunday, January 19, 2014


Disclaimer: ini entry orang emo.

Hati ini sayu. Senang benar ia terasa sebak. Belum apa-apa aku sudah tertitiskan air mata. 

Saudaraku!!! Dengarkah kalian panggilanku? Aku memanggil dari sudut hati aku yang paling meronta. Walaupun sekadar jari-jemari yg mampu aku gerakkan untuk menyusun patah kata, ketahuilah aku benar2-benar mahu kalian mendengar panggilanku. 

Saudaraku!!! Mahukah jika aku tawarkan kepada kalian sejenis perniagaan yg takkan sekali-kali membawa kerugian? Malah keuntungan yg bakal dikaut adalah untuk satu tempoh masa yg lama. Nescaya kalian tidak akan papa sehingga jasad menghalau keluar nyawa. 

Saudaraku!!! Bersama-samalah aku. Pimpin tanganku. Pegang erat jangan kalian lepas. Aku membawa khabar gembira buat mereka perindu syurga. Aku membawa warkah cinta buat mereka pendamba cinta. Aku bukanlagh siapa2-siapa, sekadar manusia sebagaimana kalian yang mahu hidupnya ditemani.

Temanilah aku di jalan ini. Jalan penuh cinta bertebaran harum mekar mewangi. Jalan penuh kasih milik sang Pencipta untuk yang mencari-cari. Jalan penuh pengorbanan, namun diakhiri kebahagiaan yg sudah dijanji.

Saudaraku, marilah kita kembali kepada Allah. Ketahuilah peluang taubat itu masih terbuka luas. Cinta Allah terhadap kita melebihi sempadan langit dan bumi. Marilah kita mensyukuri nikmat nafas kurniaan-Nya. Nikmat islam yang diberi-Nya terlebih dahulu tanpa perlu kita susah-susah mencari. 

"Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan?"-surah ar-Rahman.

Nikmat yang mana yang masih tidak kita syukuri? Nikmat berada dalam islam? Nikmat kehidupan bernyawa sebagai manusia? Nikmat akal yang tahu baik dan buruk? Nikmat hati yang mampu mencintai? Nikmat mana lagi???

Monday, January 13, 2014

#236 "Janganlah takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul."

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Allah yang pemurah. Yang masih membenarkan kita menghirup udara kepunyaan-Nya dan berjalan di atas bumi-Nya. Walaupun nafas dan langkah pinjaman-Nya itu kita guna untuk berbuat dosa dan maksiat.

Allah yang penyayang. Yang masih mahu mendengar rintihan hamba-Nya yang merintih. Yang masih menerima taubat hamba-Nya walaupun seluruh hidup si hamba itu dihabiskan dengan mengabaikan kewujudan-Nya. 

Dan saya yang masih belum mampu istiqamah dalam menulis blog. Salah niat mungkin. Kerana amal yang diterima Allah itu adalah amal yang senang untuk kita beristiqamah dengan-Nya. Baiklah. Tajdid niat. Lillah. Lillah. Lillah. 

Surah Taha.

Pada sesetengah orang, surah ini mungkin jadi penglipur lara. Kisah Nabi Musa dan Firaun. 

Pada sesetengah orang, doa famous Nabi Musa dalam surah ini mungkin sekadar doa rasmi pembuka sesebuah majlis ilmu.

Namun, penting sangatkah kisah Nabi Musa sehingga kisahnya yang paling banyak diceritakan Allah kepada kita? 

Berfikirlah. Kisahnya bukan sekadar penglipur lara penyedap mata untuk lena. Bukan cerita sejarah yang cukup untuk kita sekadar tahu. Bukan kisah seorang rasul ulul azmi yang hebat yang tidak ada kena-mengena dengan kita. 

Di manakah kaitan antara kita dan Nabi Musa as? Telitikanlah. Setiap bait ayat dalam surah taha ini, bayangkan kita berada di tempat Musa. Fikirkanlah. 

"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,
dan mudahkanlah untukku urusanku,
dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
agar mereka mengerti perkataanku,
dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,
(iaitu) Harun, saudaraku,
teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia,
dan jadikanlah dia teman dalam urusanku,
agar kami banyak bertasbih kepada-Mu,
dan banyak mengingat-Mu,
sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami."

A proposal that is just as sweet (or maybe even sweeter?); 

"Will you be my Harun?"

ps: dan hati jatuh rindu lagi pada akhawat Jordan. >.<