Showing posts with label food for thoughts. Show all posts
Showing posts with label food for thoughts. Show all posts

Monday, April 13, 2015

#243 - 59 days to maturity

Bismillahirrahmanirrahim. 

So I'm trying again, for the nth time to restart blogging. First of all, pay no attention to the title. It is just my stupid countdown towards something that may somehow determine my wordly status, though my maturity level may have no affect at all.

A little update about myself; six years as a medical student has just ended early this month. I am currently waiting for my graduation in June. As desperate as I am for prayers and warm wishes from everyone, I hope no one would call me "Doctor". Yet. That title carries such a big responsibility that I would like to be free from the burden at least until my graduation day. Yes. I am in such a denial, but these few last months in Poland, I would love to savor it, create as much memories as I could, and leave this country that I've grown fond of without regrets.

One of the many things that I love about Poland is its public transport. It is so easy to go to Warsaw, about 126km away by train, that I've been going there almost every week. Pictures uploaded here are the pictures I just took at Lodz Widzew, the nearest train station to my house (only 10 minutes by bus). Trains, I think is one of the main public transports across Europe, hence explaining its comfortability, its affordability, its wide accessibility though sometimes it can also be a tad too expensive. Poland made me fall in love with trains. I am not sure how it works in Malaysia, but trains will always be my main mode of transport if I am to travel around Europe (excluding money as a variable).

I wish Malaysia could be like this in term of public transportations. It does not only concentrate on the city centres, but there are also easy acesses to public transports in small towns and villages. Of course, there are many who own cars in Malaysia, but there are just as many people who do not. I grew up having to depend on public transports and how amusing it is that since I was a primary school student up to now (about 15 years), there has not been much improvements in the system in the state I live in. Things that have changed are just the bus companies, the price of bus tickets and they printed the tickets now instead of bus conductors going around passing tickets. I just hope it would be more efficient, more frequent and it would cover more routes.

Well, this isn't how I imagined my comeback post would look like. But, it seems like a reflection from my heart. I am one of the many people in the world who use public transports, not only need them but also love riding on them. I will be greatly disappointed if my way of experiencing freedom is blocked by some people who think more about being recognized by the world instead of satisfying the citizen's needs.




Tuesday, May 6, 2014

#239

Bismillahirrahmanirrahim.

Ya Allah, ikhlaskanlah hatiku, pimpinlah aku ke arah keredhaan-Mu.

Study of human. What do we call that? Humanology? Eheh. Macam pelik kita ambil degree, master sampai ke tahap professor nun tentang pelbagai perkara, tapi tentang diri sendiri pun kita masih belum betul-betul kenal.

Setelah lebih tiga bulan blog ni menyepi, hari ni saya terpanggil untuk berkongsi sesuatu tentang diri sendiri. Ini mungkin bukan fakta, dan mungkin tak melibatkan siapa-siapa, tapi ini pengamatan lemah saya ke atas segelintir golongan manusia.

Manusia; which is kita, dilahirkan dengan mempunyai perasaan untuk menyayangi diri sendiri lebih dari orang lain. Hence, it's in our nature untuk melebihkan diri sendiri dan lebih memberi perhatian ke atas diri sendiri.

Contoh: cuba ambil gambar beramai-ramai. Kemudian, ramai-ramai tu pun akan berebut-rebut nak tengok gambar yang diambil. Apa yang ditengok pada gambar tu? Diri masing-masing. Ready ke tak ke..mata pejam ke tak ke..tudung senget ke tak ke..cantik ke tak cantik ke.. Ada ke orang yang tengok gambar orang lain dulu sebelum tengok gambar diri sendiri? Mungkinlah ada. ^^

Kita juga lebih suka bercerita tentang diri sendiri berbanding mendengar cerita orang lain. Kita senang menghargai mereka yang sudi meluangkan masa mendengar cerita kita, kerana menjadi pendengar yang baik itu bukan satu bakat yang kita dilahirkan dengannya, malah satu kesedaran yang terhasil apabila kita melebihkan orang lain daripada diri sendiri. Dan bukan semua yang mendengar itu benar-benar mendengar kerana mereka mengambil berat. Ada yang sekadar ingin tahu, dan ada yang dalam hatinya, membandingkan kisah kehidupannya dengan kisah yang didengarinya. (Eh, ini research okay. People may likely gain our trust and may favor us if we listen to their stories.) 

Akhirnya, walau bagaimana sekalipun tingkah laku kita, niat yang bakal menentukan segala-galanya. Janganlah kita menghakimi manusia, kerana keikhlasannya tidak mampu kita ukuri. Cuba sedaya upaya untuk berlapang dada. 

Sakit, bila rasa asyik kita sahaja yang mendengar, tiada yang mahu menyahut panggilan kita. Sakit, bila rasa asyik kita sahaja yang mengalah, tiada yang mahu mengambil berat perihal kita. Sakit, bila rasa asyik kita sahaja yang cuba membantu, tiada yang mahu mempedulikan kesusahan kita. 

Sakit itu, kerana kita meletakkan diri kita sendiri sebagai paksi kehidupan kita. Sedangkan paksi kehidupan kita bukanlah kita. Dunia tidak berputar mengelilingi kita, malah dunia langsung tidak memerlukan kita untuk berfungsi seperti biasa. Maka, betapa angkuhnya kita bila kita rasa perhatian itu berhak menjadi milik kita! Betapa angkuhnya kita bila kita rasa situasi kita lebih penting daripada situasi lain-lain manusia! Betapa angkuhnya kita bila sepanjang masa hanya tentang diri kita sahaja yang bermain di kepala!

Dunia bukan hanya ada kita. Dunia juga ada manusia yang memerlukan kita. Dunia bukan hanya tentang kita. Dunia juga ada manusia yang lebih perlu kita berikan perhatian padanya. Apa sangatlah masalah kita bila dibandingkan dengan umat manusia yang di tengah-tengah medan perang dan kelaparan sana? Oh, saya tahu ujian itu Allah beri mengikut kadar kemampuan kita dan tidak layak untuk kita membanding-bandingkan antara satu ujian dengan ujian yang lain.

Namun, saya rasa saya perlu juga melakukan perbandingan itu saat ini. Supaya saya sedar, pada nikmat Allah yang tidak pernah putus ke atas saya. Supaya saya sedar saya masih beruntung jika diukur dengan neraca dunia. Walhal kalau diukur dengan neraca takwa Allah swt, entah di mana agaknya kedudukan saya. Belajarlah menghitung nikmat, bukan musibah. Dengan cara itu, kita akan lebih belajar menjadi manusia yang bersyukur. Dengan cara itu, kita akan lebih menghargai kehidupan kita dan kehidupan manusia yang lain. InsyaAllah.


"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." -doa Nabi Sulaiman, 27:19.

Wednesday, December 11, 2013

#235

 Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Kekuatan itu datangnya bukan dari kesihatan badan yang unggul. Bukan dari sokongan jitu mereka di sekeliling kita. Bukan dari keazaman yang tak pernah lelah. Bukan dari semangat yang berkobar-kobar. Bukan dari ketinggian ilmu yang melangit. 


Yes, those elements help. Namun yang menjadi sumber sebenar kekuatan itu adalah keyakinan kepada Allah. Bila kita yakin dengan setiap aturannya, kita bersangka baik dengan ujian yang melanda, bersyukur dengan nikmat yang tiba. 

Status Facebook terbaru saya. 

Sakit itu biasa. Lebih-lebih lagi bila demam, batuk, selesema dan sakit kepala. Itu tandanya badan kita masih mampu berfungsi dengan baik. Demam itu sendiri, secara saintifiknya bukanlah penyakit, namun merupakan defense mechanism badan kita, yang sedang bertarung dengan pathogens yang menyerang badan. Bersyukurlah. Secara logiknya, demam itu tanda badan kita masih mampu mengenal apa yang baik apa yang tidak untuk kita. Bersabarlah. Secara ruhinya, itulah tuntutan Allah untuk umat islam yang dilanda musibah.

Kadang kala kita jadi kabur dengan sumber kekuatan kita. Terlalu banyak bekerja. Memikirkan masalah ummah yang semakin menjadi-jadi (lebih-lebih lagi di Malaysia). Sibuk memberi taujihat itu ini. Sibuk membentuk adik-adik usrah. Lalu datanglah satu jenis penyakit yang sangat berbahaya.

"Sindrome bercakap tentang Allah lebih dari bercakap dengan Allah."

Bercakap tentang Allah itu senang. Sebagaimana apa yang sedang saya lakukan sekarang. Dalam bahasa medicnya, orang-orang sebegini punya peripheral edema. Bengkak kaki tangan dan badan, namun kepalanya kecil. Bersungguh-sungguh bekerja, kononnya mahu berdakwah menaikkan semula agama Allah di mata dunia, namun sangat kurang berdoa dan bermunajat kepada-Nya.

Kata seorang sahabat, "Dari mana datangnya semangat ini?" 

Bila keyakinan kepada Allah itu bukan sumber kekuatan kita, kita akan senang untuk hilang. Tercicir. Mengundur diri. 

Bila sakit, mula beralasan badan lebih memerlukan tuntutan rehat.
Bila sendirian, mula beralasan tiada yang melihat maka tak apalah, sekejap sahaja aku mahu berehat.
Bila diuji, keazaman dan semangat pun luntur begitu sahaja dimamah putus asa.
Bila berdepan mereka yang pandai berhujah, kita berundur dek alasan aku masih perlu menambah ilmu.

Walau bagaimana sekalipun, perlulah kita sedar, hubungan dengan Allah itu harus terjaga. Sepanjang masa. Jangan diharapkan pada biah yang solehah untuk mengingatkan, ia membantu, namun bila berseorangan, hanya ingatan terhadap Allah sahaja yang mampu menggerakkan kita. Jangan diharapkan pada semangat yang dirasakan takkan hilang, ia membantu, namun sedikit ujian yang luar biasa sahaja bakal memadam api semangat itu jika tidak disandarkan pada Allah. 

Bercakap dengan Allah itu juga perlu. Namun, keislaman kita masih belum sempurna jika kita sekadar bercakap dengan Allah tanpa memberitahu dunia siapa itu Allah. Dalam bahasa medicnya, orang yang sekadar mementingkan ibadah semata-mata ini saya umpamakan punya macrocephalus. Kepalanya membesar, penuh dengan entah apa, namun tak digunakan sepenuhnya.

Wahyu pertama yang diturunkan juga menuntut kita membaca. Mencari ilmu. Kerana ilmu yang kita amalkan bakal menjadi aset yang memasukkan pahala ke dalam akaun kita walaupun setelah kita mati. Beribadatlah sejuta tahun sekalipun, saat kita mati, terputuslah pahala ibadat kita. Namun ada pahala yang tidak akan terputus dengan kematian kita; anak soleh yang mendoakan kita, ilmu yang kita amalkan, sedekah yang kita hulurkan. 

Perhatikan. Tiga jenis pahala ini berkait rapat dengan hubungan kita dengan manusia yang lain. Allah menuntut kita untuk beribadat kepada-Nya. Namun, itu belum sempurna jika kita tidak memelihara hubungan kita dengan manusia yang lain. 

Maka, seimbangkanlah antara bercakap dengan Allah dan bercakap tentang Allah. Kedua-duanya tuntutan yang wajib kita penuhi. Kedua-duanya mendatangkan pahala kita dilakukan dengan ikhlas kerana-Nya. Namun, janganlah melebihkan satu dan meninggalkan yang lagi satu. Kedua-duanya sangat berkait rapat. Kedua-keduanya interdependent on each other. Kedua-duanya ada kesan ke atas masing-masing.

Ringkasan tazkirah untuk diri sendiri. Semoga memberi manfaat juga kepada yang membaca.

Sunday, August 4, 2013

#228 Selamat Beraya!

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

#np Gelombang Keadilan.

Menggila sekejap. Haihhh. Semangat semangat semangat! Semoga bukan sekadar semangat nak menyanyi je. Eheh.

Ramadhan dah nak habis. Dah nak masuk Syawal. Pernah la terbaca somewhere dulu-dulu ni, 1 Syawal tu kita panggil aidil fitri kerana kita meraikan kembalinya kita kepada fitrah sebenar kita. Sebulan kita dilatih dengan intensifnya dalam Ramadhan, kita keluar dari madrasah Ramadhan ni dengan bekalan yang cukup untuk menghadapi 11 bulan yang mendatang.

Itu pun kalau kita sedar Ramadhan itu sekolah kita. Nabi saw dan para sahabat bersiap sedia nak masuk Ramadhan ni sejak bulan Rejab lagi. Kita? Mungkin prepare nak sambut Syawal tu lebih awal dari prepare nak sambut Ramadhan. Mana taknya, raya bulan 8 bulan 1 dah beli baju raya. Lagi sebulan nak puasa hari ni dah order kek lapis sarawak, baulu ikan, maruku bagai. Huhu. 

Masuk je Ramadhan, kita hanya ada iman dan nafsu yang mengawal kita. Syaitan memanglah diikat, jadi bolehlah reflect balik ayat Allah...

"Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri." -14:22

Sesungguhnya kita hanya ada diri kita untuk disalahkan atas dosa-dosa kita. Bukan persekitaran, bukan godaan manusia mahupun syaitan, bukan iman yang sedang menurun tetapi diri kita semata-mata. Sekuat mana kita menahan nafsu, semua teruji dalam bulan Ramadhan ni. 

Saya hormat pada mereka yang bila je masuk Ramadhan..yang tak bertudung cuba bertudung, yang merokok memanglah takkan merokok kan sebab puasa, yang baca Quran sikit2 mula menderas nak habiskan satu juzu' sehari, dan yang tak pernah menjejak kaki ke masjid mula memenuhi rumah Allah itu untuk terawih dan iktikaf. Alhamdulillah. Sesungguhnya Ramadhan itu sekolah pada saya, melatih dan mendidik kita.

Yang tak bestnya, bila berakhir je Ramadhan maka amalan-amalan yang kita amalkan selama sebulan itu kita tinggalkan. Tak bestlah macam tu. Macam orang kata, itu kita yang menjadi hamba Ramadhan, bukan hamba Allah yang cuba memanfaatkan Ramadhan. Seharusnya Ramadhan itu melatih kita, agar bila kita keluar dari Ramadhan, amalan-amalan itu mampu menjadi bekalan untuk kita.

Menangis kot dengan hadis Nabi saw;

"Menyesallah dan rugilah..menyesallah dan rugilah..(Dalam riwayat lain: “Hingus mengalir di hidungnya”) Lalu mereka bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? Jawab Rasulullah saw: “Orang yang masuk ke bulan Ramadhan hingga ke penghujung bulan tetapi dosanya tidak diampunkan." (At-Tirmizi dengan sanad Hassan)

Sebulan kita bebas dari bisikan syaitan. Sebulan yang memang seharusnya diperuntukkan sepenuhnya untuk ibadah semata-mata. Sebulan tak perlu fikir nak makan/masak apa di masa siangnya. Sebulan Allah menghadiahkan kita dengan ibadah terawih, dan ibadah-ibadah lain yang berkali-kali ganda lebih pahala. Rugi sungguh-sungguh la kalau kita keluar dari madrasah Ramadhan sebagai manusia yang sama sepertimana kita sebelum memasukinya. T.T

Bercampur-baur emosi hendak meninggalkan Ramadhan dan memasuki Syawal. Ada yang happy dapat berkumpul satu family. Alhamdulillah. Tak salah untuk rasa gembira, kerana aidil fitri itu sendiri adalah hari kemenangan umat islam. Yang sedih sebab Ramadhan dah berakhir pun boleh. Entah hidup lagi atau tak nak menanti Ramadhan yang seterusnya, bulan yang free-free je pahala Allah nak bagi.

Bagi saya, seharusnya perasaan itu bercampur-baur. Sedih dalam gembira. Gembira dalam sedih. Seharusnya kita keluar dari Ramadhan sebagai seorang yang lebih kuat azamnya untuk melawan syaitan yang akan terus menghasut dan menggoda. Seharusnya kita keluar dari Ramadhan sebagai seorang yang mensyukuri peluang kurniaan Allah yang berkesempatan menemui bulan mulia penuh barakah itu. Seharusnya kita keluar dari Ramadhan dengan rasa puas kerana kita sudah menggunakan sepenuhnya sebulan itu untuk mempersiapkan diri!

Tapi...sejauh mana kita memanfaatkan Ramadhan kita yang hanya berbaki tiga hari lagi? Huhuhu. InsyaAllah masih belum terlambat untuk memohon keampunan Allah. Biar bagaimana sekalipun kita di permulaannya, what counts is how we are at the end. 

Err. Selamat menyambut 1 Syawal, bulan kita kembali kepada fitrah kita, yang mudah-mudahan kita kembali dalam keadaan bersih dari dosa dengan timbunan pahala yang bakal membantu di akhirat sana. 

 ..............




post script 1: double beruntung students yang bercuti masa tengah bulan puasa ni. free tak payah fikir study boleh focus ibadah je. :D
post script 2: tak sabar nak makan ketupat dengan rendang tok. bukan rendang tok, tapi rendang yang Tok Leha buat. eheh.

Wednesday, March 20, 2013

#220 - Read, Think and Judge

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Susah hati. Mungkin lebih kepada gusar sebenarnya. Manusia memang sudah fitrahnya berbeza antara satu dengan yang lain, maka mengapa susah benar untuk kita meraikan perbezaan antara kita? Sudahlah isu PRU 2013 yang entah bila bakal selesai, semuanya dipolitikkan. Saya terlihat juga adanya perbezaan pendapat antara umat islam yang berbeza jemaah yang akhirnya berakhir dengan perdebatan hangat untuk menegakkan pendapat masing-masing. Saya bukanlah ahli dalam soal jemaah ini, saya sendiri masih sedang belajar bertatih untuk mendapat sebuah kefahaman. Namun, mengapa sampai hilang rasa hormat terhadap saudara seagama sendiri? Yang mengikat kita bersama bukanlah jemaah, namun agama. Mencari cela pada saudara sendiri sama seperti membuka cela sendiri. Allahua'lam. 

Oh. Selamat hari lahir ke-23 kepada sahabat baik saya. Saya mencintai dia kerana Allah. InsyaAllah, akan saya cuba lestarikan kata-kata ini selagi mana saya mampu melakukannya. Doa saya; semoga kita sama-sama ke syurga. Allahu. 

Familiar dengan istilah ini? Islah nafsak wad'u ghairak. Perbaharui diri dan ajaklah orang lain. Sering disebut-sebut bila mana isu dakwah mahu ditekankan. Saya dulu terkesan juga dengan penggunaan perkataan dan dalam istilah ini. Apa yang ingin disampaikan adalah, memperbaiki diri dan mengajak orang lain itu perlu dilakukan seiring, serentak, simultaneously. Jangan tunggu diri sudah baik baru mahu berdakwah kerana kita sampai bila-bila juga tak akan pernah perfect.

Lalu saya diperkenalkan pula dengan istilah rabbani (3:79). Mengajar dan belajar. Kita belajar apabila kita mengajar. Kita memperoleh sesuatu apabila kita memberitahu kepada orang lain. Maka somehow, ditanamkan satu kefahaman ke dalam diri saya, berdakwahlah. Beritahu. Sama ada kau rasa kau baik atau tidak, beritahu. Kerana cara itu juga akan membolehkan kau belajar. Cara itu akan menjadikan kau lebih baik.

Namun, saat ini, saya sekali lagi terkesan dengan istilah islah nafsak wad'u ghairak itu. Kali ini bukan perkataan wa (dan) yang menyentuh saya, tapi perkataan islah (perbaharui). Jazakillah khairan katheera kepada kakak naqibah comel kesayangan saya. Pembaharuan pada diri itu tidak berlaku secara automatic. Ya, kita perlu seiringkan pembaharuan diri dan berdakwah. Kita perlu seimbangkan antara tarbiyyah dan dakwah.

Namun, kadang-kadang saya sendiri hanyut memikirkan apa yang mahu saya sampaikan kepada anak-anak usrah saya sehingga saya lupa apa yang saya perlu beri pada rohani saya. Semakin banyak perkara yang saya ingin mereka peroleh, maka semakin intensif pembaharuan yang saya perlu lakukan pada diri saya. Contohnya, jika saya mahu mereka membaca al-Quran satu muka surat sehari, maka saya perlu membaca lebih dari itu. Apa guna jika kita terlalu sibuk mengajak orang lain melakukan kebaikan, sedangkan amal kita masih di tampuk yang lama? 

Kata seorang sahabat, jika terlalu banyak bercakap tentang dakwah, hati mungkin akan menjadi keras. Mengapa? Kerana ketidakseimbangan antara dakwah dan tarbiyyah itu sendiri. Hubungan dengan Allah itu perlu kita jaga serapi-rapinya. Pada saya, mereka yang mahu mengajak dan memberitahu orang lain ini, perlu ada kekuatan dalaman yang tersendiri, supaya bukan mereka yang akan larut dalam dunia masyarakat yang semakin sakit. 

Seperti di atas. Berjemaah itu perlu, Allah suka pada umat islam yang bekerja secara berjemaah. Namun jemaah itu bukankah sekadar alat untuk membolehkan kita bergerak? Jemaah itu ibaratnya sebuah kapal yang membawa kita menyeberang lautan. Apabila kita sudah sampai di pesisiran, masihkah ada gunanya kapal itu? 

Destinasi kita sama. Namun kenapa masih mahu berbalah mencari salah sesama diri? Saya tahu, kritikan itu perlu dalam memperbaiki apa yang kurang. Namun, saya tidak nampak perbincangan dan kritikan yang membina yang disertai dengan niat untuk saling memperbaiki atas dasar saling menyayangi sesama muslim. Apa yang saya nampak menggunakan mata saya yang masih belum matang dalam soal ini adalah; kritikan-kritikan pedas untuk menegakkan pendirian sendiri dan menyalahkan pihak yang satu lagi. Kita ini, bawa islam atau bawa jemaah?

Saya tahu, bukan semua sebegitu. Ada yang ikhlas menegur untuk pembaikan bersama. Ada yang ikhlas berdoa untuk kesejahteraan saudara seagama. Namun segelintir yang mungkin, pada saya, taksub pada jemaah, mencacat celakan pergerakan dakwah. Akhirnya, islam yang sempurna itu tidak dapat kita tunjukkan. 


p/s 1: Allah tak suruh kita berukhwah dengan ahli-ahli dalam jemaah. Allah suruh kita berukhwah dengan orang islam yang lain. Allahua'lam.

p/s 2: Ini kefahaman dan pemikiran saya. Tiada niat untuk menuding jari pada pihak-pihak tertentu. Mohon betulkan jika ada kesilapan, saya juga masih baru mengenal dunia.

“I want there to be a place in the world where people can engage in one another’s differences in a way that is redemptive, full of hope and possibility." - bell hooks, Reel to Real: Race, Sex, and Class at the Movies

"We are made of different colours and we have different cultures. We are all different! But the key to this door is to look at these differences, respect these differences, learn from and about these differences, and grow in and with these differences. We are all different. We are not the same. But that's beautiful. And that's okay." -C. JoyBell C.



Saturday, January 12, 2013

#218 quotes.

In the name of Allah, The Most Gracious and The Most Merciful.

This is a random post. I was on google searching for nice pictures and quotes about examination to give to these lovely sisters of mine who are taking the histology exam today. And I found too many beautiful quotes that I wish I had a tumblr to share them on, but since I don't have one, today this will be shielasaad.tumblr.com for a day. Eheh.

 His tests are either to punish us, to cleanse our sins or to put us one level higher. It depends on how we deal with it.

Do not question what He gave you, because 65:2,3.

Ask ourselves, do we put dunya in our hand, or in our heart? Which money are exactly ours, the one in our bank or the one we gave for infaq?

"Allah is as what you think He is." -quoted from hadith.

True. The only book that helps us live with love and dignity.

We have this tendency to deviate our thinking from 'Allah first' to 'Allah is the last option'. Astaghfirullahalazhim.

My favourite. After all, it depends on ourselves. To think of it as a torment or an opportunity. It's how we see with all our senses!

The picture says it all. Oh, I mean the verse from the Holy Book says it all. ^^

2:208. Why do we take Allah so lightly, fitting islam into our life instead of fitting our life into islam??

Oh. Indeed. Even hadith says it, two of the most forgotten nikmats are health and good times. 

post script: pictures aren't mine, solely taken from the google. credits to the owners of the pictures. no matter where they are, may Allah bless us all.

Thursday, November 29, 2012

#214 - al-Fatihah part 1

In the name of Allah, The Most Gracious and The Most Merciful.

Assalamualaikum wbt. 

Before anything else, I'd like to promote a blog of a friend of mine. Here it goes. Just click the words below.


If you did click it, open it and read it..you may probably know by now that she's a mere human. Just like me, a girl struggling to live searching for Allah's blessings. She's not perfect (of course, no one is), yet she is one of my dearest friends and I respect her for her extraordinary spirits. Please do support her and follow her, for she is new to the blogging world and I believe there will be a lot to gain by reading her blog. And if you know her, I'm sure you'll love her. InsyaAllah. :)

***

It's 6:09am right now. I have a clinical class about tuberculosis in about 2 hours from now. Anyway, it's not TB that I wanna talk about.

***

Have I ever told you that my house here is called Fatihah w Lodzi? It is wrong grammatically because it comprises of two different languages. 'Fatihah' (arabic) which..you know what it means right? And 'w Lodzi' (polish) which means 'in Lodz'. So basically, we (me, Pidah, Fadh, Yuyu) thought about us being the first batch to be sent to Lodz (little did we know at that time that we are not just the first, but also the only), and Fatihah just seemed like an appropriate name.

And it still is appropriate despite the grammatical error. I so love my Fatihah w Lodzi and the people inside it! ^^

***

Just like the first surah in the holy al-Quran, al-Fatihah. It is the first surah, the opening to another 113 surahs to come. It is not only the first, but it is also such a special surah that without this surah, none of our solat will be accepted. Why is it so special, that we recite it at least 17x/day?

Here's one of the many reasons.

Al-Bayhaqi quotes al-Hasan who said, "It (al-Fatihah) sums up the Quran."

Whoever understands the real meaning of Al-Fatihah will understand his/her purpose of life, I shall say. Understanding, not as in the literal translation from verse 1 to verse 7. But understand why Allah started the surah with basmalah, then alhamdulillah and ended it with wa ladhallin. (forgive my roman spelling for the arabic words) Understanding why was this word was used instead of that, why did this word come first before that etc etc. If you understand it, I believe we will have a different feeling when reciting it in our solat.

InsyaAllah, whatever I know, I shall share it here. So that whatever I know, everyone who reads this will also know. 

I believe that most of you (if not all) already remember the literal translation of al-Fatihah. If you don't, here's for you. [Makna Surah al-Fatihah] InsyaAllah for my next post, I'd like to share what I understand from the surah. So that we will be able to have the appropriate feeling when reciting it. This should be a very special surah to us, that's why we read it everyday. 

But for now, take some time to think. Why is al-Fatihah so special? Why is it that this is the surah chosen to be recited in the solat? We memorized it since we were a mere 6-year-old, do we really understand what it wants to tell us after all this years?

Wednesday, December 14, 2011

#183 - Muse.

In the name of Allah, The Most Gracious and The Most Merciful.

Let's see. It's December 14th today, exactly at 2:35am right now. I am supposed to be studying for my pathophysiology test this coming Thursday and yet, here I am. Rambling. Nak buat macam mana, studying Diabetes up to its molecular basis is so not as interesting as blogging, so I'm saying. ^^

Well, since the mood is here, I am thinking of responding to this question.

"dan sepanjang pemuda ini tidur, rasa-rasanye lah kan ape dah berlaku kat tamadun tu? maksud saya ape jenis dakwah, revolusi, method atau ape saje cara sehinggakan islam tertegak dengan begitu indah? bagaimanakah perubahan itu berlaku sedangkan pemuda2 yang membawa risalah dakwah ketika itu telah ditidurkan di dalam gua. maka nak minta pandangan cik penulis." -by muse. (refer to the chatbox at the right side of this blog ---->)

First of all, I am aware of my status, that I am not alim enough (alim, as in berpengetahuan) to answer this question in a more solid and precise way. But still, I can go surf the internet looking for kitab ke tafsir ke apa, and I am pretty sure I'll find some sources that will give me an answer to this. But right at this very moment, I feel like answering this question using my own opinion. Hmm, more like sharing my own opinion rather than answering to this question kot. :D Please note that this entry is solely my opinion, and my opinion only. I do not refer to any kitab, articles or anything else except tafsir al-Quran for the verses. And so, this can be true and not be true, depending on the way people see it.

Anyway, the first time I read what Muse wrote, one verse from the Quran came across my mind.

"Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." -15:9

Kalaulah, hari ini Allah mematikan semua orang yang menyampaikan risalah dakwah, adakah itu membawa maksud islam akan terus hilang lenyap tanpa ada sebarang kesan? Kita hidup kerana adanya islam, atau islam itu ada kerana adanya kita? Tepuk dada, boleh tanya hati, ilmu, iman dan fikrah kita :)

Saya tak tahu apa jenis dakwah, revolusi atau method yang membuatkan islam tertegak sebegitu indah masa pemuda2 Kahfi tu terjaga dari tidur selama 900 tahun lebih tu. Tapi, saya tahu itu kehendak Allah. Allah yang Maha Hafiz menjaga pemuda2 Kahfi dari ancaman fitnah keimanan ke atas mereka. Dan pada masa yang sama Allah yang Maha Hafiz turut menjaga agama tauhid agar terus subur di atas muka bumi.

"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang2 yang beriman." -9:14

Kemenangan yang dijanjikan Allah terhadap umat islam terjadi kerana itu kehendak Allah yang mahu memberikan kemenangan kepada umat islam. Kata Allah dalam ayat di atas, Dia akan menyeksa mereka dengan perantaraan tangan umat islam. Yang memerangi adalah umat islam, yang memenangkan adalah Allah. Kita boleh memerangi tapi kita tidak berkuasa untuk memberi kemenangan. Sedangkan Allah, tanpa memerangi sekalipun Allah mampu memberi kemenangan.

Allah mampu saja memelihara agama-Nya tanpa kita. Walaupun tanpa pemuda2 Kahfi yang membawa risalah dakwah, Allah berkuasa saja mendatangkan manusia2 lain yg turut beriman untuk menyebarkan islam. Kalaupun tidak dengan cara tu, ada banyak lagi cara yang Allah boleh datangkan untuk menegakkan islam di atas muka bumi. Kerana Allah itu Maha Kuasa.

Dan kita yang tak ada kuasa ni, sentiasa memerlukan rahmat Allah agar semasa Allah memenangkan agama islam, kita berada dalam kelompok mereka yang berusaha ke arah itu. Manusia ni ada empat kelompok. Yang main bola, yang tolong sorak masa tengok orang main bola, yang bakar banner dan buat demo protest team bola dan team yang lawan pasukan bola. Jadilah orang yang main bola, so that bila team bola tu menang, kita jadi orang yang menyumbang, bukan sekadar orang yang pegang pompom sambil bertempik sorak.

Summary pada apa yg nak disampaikan sebenarnya just: jadilah orang yang berusaha untuk menegakkan agama Allah sehingga ke UA. Walaupun usaha kita tu bukan faktor kejayaan yg bakal kita tempa, tapi usaha itu adalah apa yang bakal memberatkan timbangan kita. Allah tak suruh kita berjaya, Allah suruh kita usaha. Dan bila kita usaha untuk agama Allah, Allah pasti akan tolong kita (47:7)

I never really answer question correctly, sebab I keep on going out of the track. Forgive me for that, especially to Muse. But still, what I feel like sharing, I think I've said them all. What cause NIDDM? I'd better go back to my beloved Diabetic slides. ^_^ Salam sayang semua ^^

Oh anyway, rasa nak dengar Unintended by Muse. Lama tak layan.

Sunday, December 4, 2011

#181 - Fitnah Dalam Gua part II

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Fuhh, entry tertunggak lebih seminggu. Blame it solely on Pharmacology, not my time management. Hehe. Oh, selamat hari asyura. :) Dah nak 10 Muharram. Jom2 rebut pahala puasa hari ni ^^ Ha! Pun tak wish lagi happy new year. Ada penghijrahan ke arah yg lebih baik untuk tahun baru 1433H ni? Lagi kurang sebulan nak birthday tahun hijrah. Yeay. :D
Link
Entry ni adalah sambungan kepada Cerita 1 sampai 4 yg dipost on November 25th dulu. Baca tu dulu before baca ni tau. First thing first, kena clarify dulu apa maksud fitnah sebenarnya. Kita selalu je cakap fitnah2 ni bila ada orang bawak cerita yg tak betul kan. "Eh dia tu fitnah belaka." Tapi maksud fitnah ni sebenarnya bukan tu je. ^^ Secara generalnya, fitnah ni adalah ujian. Ujian ni boleh jadi dua benda, ujian yg datang dari dalam dan ujian yg datang dari luar. Contoh, Munah ni free hair. Sebab apa dia free hair? Ada dua sebab. 1, sebab orang sekeliling dia pun free hair. 2, sebab dia rasa dia tak cantik kalau pakai tudung. Sebab 1 tu adalah ujian dari luar, yg kita panggil mehnah. Sebab yg kedua tu kita panggil fitnah, sebab datangnya dari dlm diri kita.

So, nak dijadikan cerita, seronoknya surah al-Kahfi ni sebab Allah bukan saja2 suka2 nak cerita kat kita pasai orang zaman2 dulu, buat bedtime story je. Bangun tido terus lupa. Ada fitnah yg dibawa dalam keempat-empat cerita ni. Ada empat jenis ujian yg boleh datang dari dalam diri kita, dan melalui cerita ni, Allah share dengan kita apa ujian2 yg selalunya kita terima dari dalam diri kita.

Fitnah 1

Fitnah keimanan. Pemerintahan yg kejam dekat negeri tempat pemuda2 Kahfi ni tinggal berlawanan dengan fitrah agama tauhid yg dorang anut. Keimanan dorang teruji. Patut ikut je ke pemerintahan tu untuk selamatkan diri, atau kekal dengan agama tauhid dan terima risiko bakal dimaki dihukum bagai? Kalau kita berhadapan dengan fitnah keimanan ni, Allah kata penyelesaiannya adalah keluar dari persekitaran yg membawa keburukan pada kita tu. Macam pemuda2 Kahfi ni buat. Untuk menjaga keimanan dorang, dorang keluar menuju ke sebuah gua. Kat sini kita nampak kepentingan biah dalam kehidupan seorang individu muslim. :)

"Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh itu hendaklah seseorang itu meneliti siapa yang menjadi temannya." -HR Abu Daud.


Fitnah 2

Fitnah kekayaan. Si kafir dengan si mukmin ni dua2 ada kebun anggur. Dua2 ada harta. Tapi berbeza sekali cara dorang melayan harta dorang kan. Satu berbangga2 dengan apa yg dianggapnya diperoleh sebab hasil usaha dia sendiri. Bila kita ada harta, lagi2 yg kita peroleh melalui hasil usaha kita, senang untuk kita terkena fitnah kekayaan. Rasa macam kita kaya ni sebab kita yg rajin usaha semua. Jadi penyelesaiannya, anggap harta tu sekadar perhiasan dunia, yg terwujud sekadar dengan kehendak dan izin Allah. (MashaAllah, la quwwata illa billah). Harta tu bukan milik kita, tapi dipinjamkan Allah untuk kita. Harta boleh jadi benda yg bakal mendakwa kita di akhirat, boleh juga jadi benda yg membantu kita masuk syurga, terpulang pada cara kita mengendalikan harta kita. :)

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya." -18:7


Fitnah 3

Fitnah kebijaksanaan. Nabi Khidir itu seorang Nabi yg dikurniakan Allah dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Untuk orang yg bijak pandai ni pun mudah untuk jatuh dalam fitnah kebijaksanaan ni, bila kita anggap kita pandai dan lebih dari orang. Nauzubillahiminzalik. ;( Dalam cerita ni, cara Nabi Khidir ni mengelak dari fitnah kekayaan ni adalah dengan buat benda2 pelik. Hehe. Yeke? Dalam erti kata lain, beramal dengan ilmu. Hidup mengikut arus agama, bukan arus adat dan semasa semata-mata. Benda pelik ke tak pelik ke, kalau berdasarkan ilmu yg kita ada itulah yg Allah redha, perlu untuk kita buat.

"Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah." -Saidina Ali r.a. (macam pokok cempedak mandul kat umah, last2 kena tebang je. huhu)


Fitnah 4

Fitnah kekuasaan. Ayat 86 surah al-Kahfi ni, Zulkarnain siap diberi pilihan lagi sama ada hendak menghukum atau berbuat kebaikan, sebab Zulkarnain ada kuasa. Orang ada kuasa ni mudah terjurus untuk menyalahgunakan kuasa. Sekarang ni lagi la kan, corruption semua. Isk isk. Untuk mengelak fitnah kekuasaan ni, si ketua perlu bergaul dengan orang ramai. Kalau zaman Khulafa' ar-Rasyidin dulu pun dah menjadi satu contoh untuk kita, mana ada khalifah yg rumahnya lagi mewah dari rumah rakyat2nya kan. Rasulullah sendiri pun lagi rela ikat perut dengan batu sbb berlapar. Zuhudnya hidup dorang kan.. Apa yg pemimpin2 ni dapat, adalah apa yg rakyat2nya dapat. :)

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar." -24:32


Panjang entry ni. Ni tak menjawab lagi soalan Muse (rujuk chatbox). InsyaAllah post selepas ni akan diusahakan secepat mungkin. Minggu ni takdak exam boleh la berfoya-foya. Wahaha!

Em, harap si penulis dan si pembaca dapat ambik sedikit sebanyak ibrah insyaAllah. Gambar tak ada kena-mengena dengan cerita ye ^^

Selamat hari asyura semua! Love from Poland :)

Friday, November 25, 2011

#180-Bicara Tentang Gua Part I


Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Assalamualaikum wbt semua! ^_^ Selamat hari jumaat semua orang! Hari ni hari Jumaat terakhir tahun 1432H. Dah nak masuk tahun baru dah. Apa agaknya yg kita dah buat sepanjang setahun ni ye. Semoga amalan2 kita Allah terima dan Allah redha. :)

"Sesiapa yang membaca surah al-Kahfi pada malam Jumaat maka terpancarlah cahaya di antaranya dan baitullah." -HR al-Baihaqi.

Ni antara dalil yg aku jumpa masa cari tentang sunat membaca surah al-Kahfi pada hari Jumaat. Adat dekat Malaysia asal malam Jumaat je baca Yaasin kan. Lepas ni apa kata kita tambah baca al-Kahfi pulak hari Jumaat, dapat pahala baca Quran sekali dengan pahala mengamalkan sunnah Rasulullah. InsyaAllah kita start sikit2.

Alang2 dah hari Jumaat ni, aku nak share sikit tentang surah al-Kahfi ni. Dalam surah ni, ada 4 cerita yg Allah bicarakan pada kita. Allah mencipta manusia ni ada cenderung untuk meminati fiction. Sebab tu kita lagi suka baca novel dari suka baca surat khabar kan. Allah tahu kita memang macam tu, sebab tu dalam Quran ni, ada Allah selitkan cerita2 untuk kita ambik jadikan pengajaran.


Cerita Satu

Memang kisah paling femes dalam surah al-Kahfi. Kisah pemuda al-Kahfi kan. Direct translation, pemuda gua. ^^ Kalau baca balik tafsir, dorang ni tak nak ikut pemerintahan zalim raja masa zaman dorang tu, tu pasal dorang keluar dari negeri dorang tu dan sembunyi dekat gua. Dan dorang tertidur dalam gua tu selama 309 tahun. Bila bangun2 je, dorang ingat dorang tertidur dalam setengah hari takpun sehari je. Dorang dapat tahu yg dorang tidur lama gila, masa salah seorang tu pegi beli makanan dan wang perak yg dia bawak tu sudah tak digunakan lagi masa zaman tu.


Cerita Dua

Yang kedua kisah kebun anggur. Ada dua orang lelaki ni, seorang beriman dan seorang lagi kafir. Dua2 ni ada kebun anggur. Tapi yg kafir ni buah anggur kat kebun dia ni lagi lebat dari yg si beriman ni. Dia pun berbangga2 dengan kekayaan yg dia ada. Katanya kepada yg beriman tu, disebabkan harta kekayaanya yg banyak, dia yakin kekayaan yg dia ada tu takkan binasa pun. Lalu Allah membalas kata2 si kafir tu dengan membinasakan kebun anggur dia dan tak ditinggalkan sedikit pun.



Cerita Tiga

Kisah antara Nabi Musa dan Nabi Khidir. Nabi Musa ni satu hari dia ikut Nabi Khidir, dgn syarat yg diletakkan oleh Nabi Khidir, yg Nabi Musa ni tak boleh tanya apa2 pun sampai la Nabi Khidir tu terangkan sendiri. Masa berjalan tu, Nabi Musa tengok Nabi Khidir ni aneh sekali perbuatan dia. Nabi Khidir ni melubangkan perahu, membunuh seorang anak muda dan menegakkan dinding sebuah rumah yg hampir roboh. Nabi Musa ni tiap2 kali tu dia tanya apsal la Nabi Khidir ni buat macam tu. Dan di akhir perjalanan tu, Nabi Khidir explain; perahu tu dilubangkan utk elakkan seorang raja merampas perahu tu. Anak muda tu dibunuh sbb bila dia besar, dia dikhuatiri akan membawa kesesatan dan kekafiran kpd ibu bapanya. Dinding rumah tu ditegakkan sebab rumah itu adalah milik dua orang anak yatim.



Cerita Empat

Pun femes jugak cerita ni! ^^ Cerita tentang Zulkarnain. Zulkarnain ni dia jalan2 sehingga dia jumpa satu kaum yang tak beragama, dan dia boleh menghukum atau berbuat kebaikan kepada kaum tu. Zulkarnain jalan lagi sampai dia jumpa satu kaum yg tak diberi perlindungan dari cahaya matahari yg terik. Dia jalan lagi dan sampai kepada satu kaum yg tak memahami pembicaraan. Kaum tu mintak tolong pada Zulkarnain untuk buat satu dinding penghalang agar Yakjuj dan Makjuj tak dapat mendaki dinding tu dan membuat kerosakan di atas muka bumi..



Dari empat2 cerita ni, apa agaknya pengajaran yang kita boleh dapat eh? Feel free to share. InsyaAllah, kalau diizinkan Tuhan, kita sambung part II nanti. Oh, sila rujuk tafsir atau terjemahan surah al-Kahfi untuk kisah lebih detail dalam grammar yang lebih proper. Huhu. Dan gambar tak ada kena-mengena dengan cerita.

Salam hari Jumaat semua! ^_^

Saturday, November 12, 2011

#177- 1 cent sometimes worth more than its value

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani. Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk merapu hari ini. :)

List of things to do today:
Basuh bilik air, siapkan presentation pasal mushroom poisoning, call En Farzamie pasal passport, usrah, kemas bilik dan lipat baju...and the list can go on and on for days. But who cares, sesibuk atau selapang manapun aku, kalau dah hati tu bergejolak nak blogging kan, tetap akan ada waktu diperuntukkan untuk blogging walau hanya 5 minit. Hehe. Ketagih blogging dah macam ketagih coffee heaven. :)

Coffee Heaven. Ketagihan ahli2 Fatihah w Lodzi. Aku ketagih sangat sampai kena buat mutabaah amal, tak boleh lebih dari sekali seminggu nak minum ni. Sadis much? >.< But but..slurp, it's creamy and it's yummy xD

Just my 1cent hari ni. 1 sen je, takde lebih2. Rasa nak share hadith ni.

"Manusia seperti logam, terpilihnya mereka semasa jahiliyyah, terpilih juga mereka semasa Islam, sekiranya mereka faham."

Dan hadith ini.

"Hampir tiba suatu masa di mana bangsa2 dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang2 yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka." Maka salah seorang sahabat bertanya, "Apakah dari kerana kami sedikit pada hari itu?" Nabi menjawab, "Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih pada waktu banjir, dan Allah mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh2 kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati
kamu penyakit wahan." Seorang sahabat bertanya, "Apakah wahan itu hai Rasulullah?" Baginda menjawab, "Cinta dunia dan takut mati."

Jadinya, soalan aku untuk diri sendiri dan untuk anda-anda yang membaca.

Kita ni dekat zaman yang manusia tengah jadi logam ke manusia tengah jadi buih?
Kita ni manusia logam atau kita ini manusia buih?
Kita ni dalam keadaan faham, atau kita ni dalam keadaan happy suka-suki tgh mencintai duniawi?

T__T Hati kita, sunnatullahnya adalah untuk mengikut perintah Allah. Hati kita ini dicipta sebagai makhluk Allah yg sentiasa akan mahu mengikut perintah Allah. Dan bila kita manusia, mencalari dan mengotori hati kita dengan perkara2 yg bertentangan dengan perintah Allah, maka rosaklah hati itu. Yup, hati itu boleh dicuci, selagi mana hati itu masih belum mati.

"Carilah hatimu di 3 tempat. Cari hatimu sewaktu membaca al-Quran. Jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan solat. Jika tidak kau temui, juga carilah hatimu ketika kau duduk bertafakur mengingati mati. Jika tidak kau temui juga, maka berdoalah kepada Allah, mintalah hati yang baru kerana hakikatnya pada masa itu kau tidak lagi mempunyai hati." -Imam Ghazali.

"Sebahagian daripada tanda matinya hati iaitu jika tidak berasa sedih kerana tertinggalnya suatu amalan kebaikan, juga tidak menyesal jika berbuat sesuatu dosa." -Sheikh Ibn Ata'illah.


Salam penuh kasih, cinta dan sayang :)

Wednesday, October 5, 2011

#169 random talk.

I found this.

Allah Says:-

Try to Walk on My Way,
I'll Make all the Ways Easy for you.

Try to Spend your Wealth in My Way,
I'll Open Oceans of Treasure for you.

Try to Leave your Wills for Me,
I'll Make your Desired Destiny for you.

Try to Bear Pain on My Way,
I'll Open the Doors of My Care for you.

Try to Believe in Me,
I'll Make Sincere Friends for you.

Try to Be Mine,
I'll Make Everyone for you !‚

And I think it was so so so sweet. Hehe. By depending on Him and Him alone that we will be able to conquer the world. Some said Islam is conservative. It is indeed conservative, for those who only see Islam as a mere religion to profess. But Islam isn't that small of a scope. ^^ Islam covers every single things; from things that should and shouldn't be done in our daily life to how an Islamic empire should rule the world. Islam isn't conversative, if you see it as your life, and your afterlife. Islam is the most perfect way to lead a happy life.

"Abandon desire for this world, and God will love you. Abandon desire for others' goods, and people will love you." -Ibn Majah.

Tuesday, June 14, 2011

Sapa tahu?? ^^

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.
14 Jun 2011.

Ehem ehem. Sapa faham hadith ni?

"Seandainya dunia ini seberat sebelah sayap nyamuk, nescaya Allah tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun hanya seteguk air."

Ha, aku siap italickan and besarkan tulisan lagi. Siapa penah encounter hadith ni, or bila dia baca dia macam faham apa maksud yang cuba disampaikan? Hehe. Tak aci google eh! Pikir sendiri! Aku pun dulu pikir sendiri jugak bila first time dapat hadith ni, sampai tension2. ^^

Mesti ramai tahu ni. ^^ Saja nak main teka-teki jap hari ni. Ohoho.



Thursday, March 3, 2011

Surat Kasih Untuk Shiela-Part II

...sambungan dari Part I...

Buat Narshiela yang penulis kasihi,

Cinta itu fitrah. Perasaan dan emosi bukanlah sesuatu yang mampu penulis, mahupun Narshiela kawal. Entah bila, tanpa kita sedar, perasaan itu tiba2 sahaja berputik. Memetik kata2 sahabat kepada sahabat penulis;

"Sakitilah hati manusia, asalkan kau tidak menyakiti hati Allah."

Penulis seorang manusia. Begitu juga Narshiela. Kadang kala, untuk meninggalkan sesuatu yang sudah sebati dengan kehidupan kita, bukanlah sesuatu yang mudah, malah memerlukan keazaman yang tinggi. Namun, ketahuilah bahawa jika kita bergerak untuk mendekati Dia, Dia juga sedang melangkah merapati kita. Tiada yang senang menempuh ranjau di jalan yang benar, namun dengan setiap langkah yang diambil untuk mencari Dia, ketahuilah bahawa Dia sedang bersama-sama kita. Ketahuilah bahawa Dia menyaksikan setiap perit jerih kita sepanjang perjalanan. Ketahuilah bahawa Dia sedang menghulurkan bantuan terhadap kita yang sedang memperjuangkan agama-Nya. Ketahuilah bahawa Dia mengetahui setiap kesakitan dan kepedihan yang kita rasai. Kerana tempat-Nya, adalah lebih dekat dari apa yang mampu kita bayangkan.

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." -50:16

Tinggalkanlah cinta seorang manusia jika cinta itu tidak langsung menyumbang ke arah dakwah di jalan Allah. Lupakanlah kasih seorang manusia jika kasih itu tidak langsung menambahkan iman terhadap Allah. Abaikanlah sayang seorang manusia kerana sayang itu belum tentu mampu membawa kita ke syurga. Tinggal, lupa dan abaikanlah! Jika ia mengurangkan cinta kita terhadap Dia yang lebih berhak dicintai. Cinta, yang tidak halal tidak akan dapat bergerak seiring dengan cinta terhadap Allah.

Penulis dihantar jauh ke bumi oleh Pencipta penulis, kerana Pencipta penulis mahu penulis mencari sendiri jalan pulang ke sisi-Nya. Pencipta penulis memberi kebebasan kepada penulis untuk mencedok sebanyak mana pengalaman sepanjang perjalanan, namun penulis harus pandai mengawal layar kehidupan penulis.

Kehidupan yang kekal hanya di sisi Dia, berlatarbelakangkan syurga yang tidak akan mampu dibayangi pancaindera manusia. Itulah sebesar-besar nikmat. Itulah sebenar-benar kebahagiaan. Itulah semanis-manis kemenangan buat secebis roh milik penulis.

Narshiela, mahukah bersama-sama penulis mengejar syurga nan abadi itu?

Note: Cerita hanya rekaan semata-mata. Hanya ada kena-mengena dengan si penulis dan Penciptanya.

Wednesday, March 2, 2011

Surat Kasih Untuk Shiela-Part I

MASA : 01 MAC 2011, 09:11am
LOKASI : MAKMAL HISTOLOGY, ZELIGOWSKIEGO 7, LODZ, POLAND
TAJUK : SURAT KASIH UNTUK SHIELA

Buat Narshiela binti Saad bin Mahamad bin Abdullah bin Aman bin ..............bin Adam a.s.

Ini kisah kasih antara penulis dan Pencipta penulis buat tatapan hati Narshiela yang penulis sayang sepenuh hati.

Penulis asalnya hanya secebis roh yang diberikan jasad oleh Pencipta penulis. Sebelum penulis dihantar ke dunia serba baru buat penulis, Pencipta penulis dan penulis telah membuat satu perjanjian. Yakni, penulis akan patuh melaksanakan tugas yang telah diamanahkan ke atas penulis.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merosak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu, dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."" -2:30

""Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." -52:56

Penulis serta-merta bersetuju dengan perjanjian tersebut, oleh sebab ketidaksabaran penulis untuk menjejak dunia baru sebagai seorang manusia.

Penulis gembira. Penulis yang asalnya hanya secebis roh kini punya jasad yang sempurna. Penulis betah berlari mengelilingi dunia. Penulis dapat beremosi sesuai dengan pengalaman yang penulis alami. Penulis bisa memuaskan nafsu dengan seribu satu kenikmatan dunia. Penulis mampu bersahabat dan mengenali aneka ragam milik manusia. Dan, walau penulis tidak pernah menjangka, penulis akhirnya jatuh cinta.

Penulis gembira dijadikan seorang insan. INSAN. Penulis gembira menjadi seorang insan yang sifat semula jadinya adalah pelupa. Penulis ralit dengan syurga dunia sehingga penulis lupa pada perjanjian penulis dengan Pencipta penulis. Penulis asyik dengan cinta seorang manusia seperti penulis sehingga mengabaikan cinta abadi milik Pencipta penulis.

Namun, Pencipta penulis langsung tidak pernah melupakan penulis. Walau penulis jarang mengingati Dia, dikirimkan-Nya sekeping naskhah al-Quran berisi surat cinta Dia kepada penulis. Pencipta penulis tidak pernah meninggalkan penulis, diingatkan-Nya kepada penulis tentang perjanjian penulis dengan Dia. Kerap kali juga penulis diingatkan bahawa satu hari nanti, penulis akan dikembalikan ke sisi Pencipta penulis. Namun, bagi penulis saat itu, cinta penulis terhadap seorang manusia mengatasi segala-galanya.

...bersambung ke part II...

Note: Cerita hanya rekaan semata-mata. Hanya ada kena-mengena dengan si penulis dan Penciptanya.