Wednesday, October 30, 2013

#234 the other side of me

In the name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful.

I am supposed to go to Norway today. With Fadh, Pidah and Yuyu.













(like my feeling. empty.)




















But what are my plans compared to His?
***

Have I ever introduced you to my housemates of five years here?  

Thohirah. Or we call her Yuyu. When we were in MSU, I had an impression that she is soft and nice. A polite Malay girl who talks nicely and smiles all the time. Turned out I was wrong. She is still nice, but she is actually this bubbly girl who sometimes makes lame jokes which you can't help but laugh uncontrollably at. She is this girl who is good at masking her emotions, and even when she's upset, she'll stay quiet and never brings it up. She brought the Ganu slang into our home and now we no longer speak in one dialect, we mix all of the dialects in one go.

Afidah. Or she likes people calling her Pidah. She believes that she's a lost princess of a kingdom and one day people will acknowledge her princess quality. *rolling eyes jap* See what she is here? A girl with a princess complex. Haha. She used to be very sensitive, and because of that she cares about people's feelings more than anyone. Despite everything, I see her as next to perfect and even though she doesn't acknowledge that, I know it's because she doesn't see herself in my point of view. She's responsible for our Kelate slang, though her family says she's not good in that dialect either. Eheh.

Fadhlina. Or Fadh. If you are to live with her, you need to get used to two things. One, listening to the same stories more than twice. Two, her weird and sometimes annoying attitude. What can I say? She's weird. Why? No one can objectively interpret what weird is. Let's just say she does things normal people don't usually do. But she is one organized person, thanks to her parents' genes. She doesn't like to lose in arguments but when she needs to be a listener and adviser, she listens and advises well. She taught us the Nogori slang though I think I'd never be able to speak in that slang. @.@

***

That's a short introduction about my housemates. We all have flaws. The reason we are still friends today after knowing each other's flaws is we overlook those for the qualities we have within. 

Thank you for keeping up with me; my moodswings, my cravings, my laziness and the list goes on and on. You girls are awesome and I am grateful to be one of the abandoned four in Lodz because of you. Lol. Exaggerating. 


I pray that this friendship, or ukhwah, or bond, or whatever you call it will last forever. Forever as in, not only when we are alive, but until we are alive again in the other eternal world. I am in this with them. I become who I am today because I have them to support me, to talk to me, to stop me and to encourage me. We are in this together, as a doctor-to-be and a full-time daie. I can't imagine a day not having them close by. I can't imagine a day going through this path of life without holding their hands. I don't ever want to imagine it, nor do I want it to happen. 

Allah, ya muqallibal qulub, tsabbit qulubana 'ala dinik. 

post script 1: Being left behind is painful enough. And now it's being left behind while feeling under the weather. I hate this. 
post script 2: why is this entry called the other side of me? a tribute to the late sidney sheldon's novel. eheh. and they are the other side of me. they are my reflections, and I am them.

Tuesday, October 29, 2013

#233 One post per month?

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.


......(susun ayat, tarik nafas dalam-dalam, kumpul perasaan untuk dimuntahkan)......

2001. Ibu meninggal dunia.

2013. Saya menjejak usia 23 tahun. Not that young, not that old either. But I'm an adult. Sudah dewasa. 12 tahun saya hidup tanpa seorang ibu. A little bit more than half of my life. 

Membesar tanpa seorang ibu memberi satu impak besar dalam hidup saya. Fasa puberty tanpa ibu mengajar bertenang. Fasa suka lelaki tanpa ibu berleter menghalang. Fasa rebel yang seingat saya tidaklah saya lalui, kerana kehidupan tanpa ibu memberi saya kebebasan untuk melakukan apa-apa sesuka hati sesedap rasa. Fasa hidup sendiri dan belajar berdikari kerana itu seolah-olah the ultimate regulation dalam keluarga saya. 

Saya tidak dikongkong. Pada ayah, cukuplah saya pandai menjaga diri. Cukuplah saya buktikan dengan pelajaran yang cemerlang dan masa cuti yang dihabiskan di rumah. Saya belajar berdikari lebih awal dari rakan-rakan seusia. Saya belajar mencari kepuasan tanpa meminta-minta pada keluarga. 

Saya bebas, tidak terikat dengan peraturan dan halangan keluarga. Saya belajar berdikari, membuat keputusan sendiri tanpa bergantung pada sesiapa. 

Dan akhirnya. 2009. Saya mengenal tarbiyyah. Secara berperingkat.

2009/2010. Tarbiyyah membahagiakan saya. Ukhwah menggembirakan saya. Bersemangat seolah-olah baru melihat dunia. Saya belajar untuk berubah sedikit demi sedikit.

2010/2011. Tarbiyyah masih menyentuh saya. Namun saya hilang seketika. Berkarat. Tarbiyyah menjadi rutin yang tidak membasahkan jiwa.

2011/2012. Allah menarik saya untuk mengenal kesilapan lantas saya cuba membetulkan diri. Saya merasai perasaan tenggelam selepas mengenali tarbiyyah, lantas saya tahu saya tidak akan mahu kembali merasainya.

2012/2013. Tarbiyyah mengajar saya berkorban tenaga dan masa. Letih dan penat, namun hilang disimbah kemanisan ukhwah Mumtahanah yang sentiasa menjana tenaga. 

Kini. 

Tarbiyyah seolah-olah mengikat saya. Mixed feelings. Bukan sikap saya meminta izin sebelum melakukan sesuatu yang saya suka, namun tarbiyyah mengajar saya untuk menghormati perasaan dan perancangan yang lebih utama. Bukan sikap saya menurut kata bila hati membantah sekeras-kerasnya, namun tarbiyyah mengajar saya untuk berkorban rasa demi syurga idaman saya. 

Sacrificing the good for the greater good maybe?

Ada ketika, saya rasa seolah-olah saya terjerut. Terbelenggu. Perasaan ingin memberontak yang belum pernah saya rasa terhadap ibu atau bapa mula bermain-main di dalam kepala. Ingin memberontak pada siapa? Allah? Astaghfirullah.

Saya sakit. Menangis sendiri. Menahan rasa yang hanya Allah mampu memahami. Dan saya tahu untuk terus tsabat di jalan ini bukanlah sesuatu yang mudah hanya kerana kita menginginkannya. Ramai yang berkeinginan ke syurga, namun tak semua yang kuat mampu menempuh jalan ke arahnya. Ramai yang mula melangkah, namun tewas dek perasaan dan keinginan sendiri yang enggan dikorbankan. Jalan ini menuntut pengorbanan. Masa kita. Harta kita. Perasaan kita. Keinginan kita. Dan akhirnya mungkin juga bakal menuntut pengorbanan jiwa kita.

Namun untuk merasai syurga yang indah seindah indahnya, apalah sangat sedikit pengorbanan yang perlu kita lakukan?

Kata seorang akhawat, "Tarbiyyah itu mensucikan. Mensucikan niat dan tujuan kita dalam melakukan sesuatu kerana Allah. Mensucikan diri kita dari attachment dunia yang tidak membawa kita ke mana-mana."

Dan ujian itu bakal membawa kita ke salah satu di antara dua. Lulus, lalu darjat kita di sisi Allah ditingkatkan. Gagal, lalu terperosok di sudut kefuturan sehingga satu saat Allah memberi kesedaran. Itupun kalau sempat disedarkan. Kalau sempat.

Tuesday, September 24, 2013

#232

In the name of Allah, The Most Gracious and The Most Merciful.

When we were in first year, Kak Syifaa once said something that sounds like this.

"Kita masuk first year sama-sama. Beli barang sama-sama. Masak sama-sama, study sama-sama, kelas pun sama, ambik exam sama-sama, nanti balik Malaysia masa summer pun sama-sama. But during the next five years, each of us will go through different paths of life. Walaupun sama-sama study medic, tapi akan ada masa some will fail and some pass. Some terpaksa balik Poland awal for retake, some don't. Some might even flunk their year, kena repeat year, while some will excel."

Well, I didn't remember her exact words, it was 100% my words, but the meaning was kinda similar. Today I was reminded of it. 

A few people reminded me of it. A few people that are going on sorta war tomorrow. Something that'll determine their future in a way, somehow. Even if it doesn't, it's a war that somehow will affect what they think about themselves, their self-esteem. 

Untuk yang di Warsaw dan di Krakow.

Semoga Allah memudahkan urusan kalian. I feel bad. I can only pray for you, when I don't even know whether Allah hears my prayers or not. But there's a saying, "prayer isn't our last weapon, it's our main weapon." 

I'll pray that Allah listens to every of your prayers. Because right now, your prayers are much more precious than mine. Because right now, what happens to you all are much more important that what happens to me. 

If we have enough faith, He will guide us through this. There is no such thing as giving up. Losers are those sperms who lost their battle to the one sperm that made us today. We were winners since those moments we couldn't even recall. :) 

Dan tak ada benda dalam dunia that could go wrong. It just happens in a way that is not to our desires, but Allah's. Have enough faith to trust in every of His moves and plans, okay? We know, apa yang pernah berlaku, sedang dan akan berlaku adalah yang terbaik. Sejauh mana we actually believe in that to put it into actions?

I will stop ranting. But I hope people know that I dedicate this random writings to a few people that held a very special place in me. Those people who somehow made a part of me, and I am not going to be as proud of myself as I am today if I didn't meet them. 

All the best for tomorrow, and for the future. Don't let anything define you, but you and your faith. ^_^ 


"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? 
Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan tanggunganmu? 
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu.
Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 
Maka Apabila kamu tekah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. 
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."

Wednesday, September 18, 2013

#231 the scary thing

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Kali pertama menulis di Poland selepas summer break, in September, as a fifth-year medical student. Alhamdulillah, segala puji dikembalikan kepada Allah. Selama ini, saya sendiri ragu-ragu mampukah saya melalui six years of tortures (so they say), but I'm already more than halfway through it.

Secara tiba-tiba, hari ini saya membayangkan saat nyawa saya diambil Tuhan. Membayangkan? Lebih kepada mengimpikan mungkin. Siapa yang tidak mahu pengakhiran yang baik, bukan? Saya juga mengimpikan pengakhiran yang sebegitu. Hidup ini kadang-kadang bukan menjadi penentu bagaimana kita saat berada di hujung nyawa kelak. Kita tidak mungkin tahu bagaimana pengakhiran kita, sehinggalah saat kita melaluinya nanti.

Saya mengimpikan saya menghembuskan nafas yang terakhir seorang diri sambil lidah menyebut nama Allah, dan Dia menjadi memori terakhir saya tentang dunia. Ah, indahnya! Seolah-olah sebuah novel yang bisa kita lakar mengikut cita rasa. 

Bagaimana agaknya keadaan kita saat kita menutup mata selama-lamanya? Apa bekalan yang bakal kita bawa saat kita pergi menghadap Dia? Agaknya pahala yang menemani kita atau dosa yang kita bawa? 

Nothing is definite. Future is such a scary thing. Can you say for sure where will you be in 10 years? Or what will you be doing tomorrow? Will you be healthy next month? Will you still be with your parents and siblings next year? Are we prepared enough?

Jujurnya, saya takut mati. Death is a part of living, everyone faces it and it happens everyday. Tapi saya takut untuk mati. Saat ini, saya takut pada sebuah kematian. Saya belum bersedia untuk mati. Saya belum mampu berkata pada Tuhan, "Ambillah nyawa aku bila-bila yang Kau mahu, kerana aku sudah ada bekalan yang cukup untuk menemui-Mu. Kerana setiap saat aku digunakan untuk-Mu, maka tiada langsung sisa-sisa perbuatanku di atas dunia yang boleh Kau guna untuk menjatuhkan aku."

Allah. 

The scary thing is not dying, because death is a definite thing everyone will go through. But what's scary is not knowing when will we die, because the moment it occurs can be anywhen.

That's why they say patients having terminal diseases are blessed. So they know their time is coming to an end. But, do we want to ask from Allah to 'bless' us with a disease? 

Ugh. 

Wednesday, August 7, 2013

#230 Wang

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Mengasihani.

Hari itu saya ke Galleria Lodzka, salah satu shopping mall terdekat dengan rumah. Bertemankan Pidah. Bila, saya sudah tidak ingat. Untuk beli apa, juga sudah saya tidak ingat. Saat mahu pulang, kami sudah menjinjit beg-beg plastik yang sarat dengan barang yang dibeli. Groceries mungkin. Berat. Lalu jalan mudah untuk pulang tanpa perlu berpenat lelah adalah dengan menaiki teksi. 

Walaupun dekat, tambang teksi selalunya berjumlah kira-kira 10 złotych. Tapi hari itu, tiba-tiba sahaja teksi yang kami naiki mengambil jalan jauh untuk ke destinasi. Meter tambang menunjukkan harga yang semakin meningkat, dan sudah tentu lebih dari yang sepatutnya. 

Teringat pesan seorang senior ketika kami masih di tahun pertama.

"Hati-hati apabila menaiki teksi di sini. Kadang-kadang mereka suka mengambil jalan jauh bila membawa foreigners kerana tahu foreigners kurang arif dengan selok-belok jalan di sini."

Saya sudah tidak senang duduk berada di dalam teksi itu. Hendak menyoal si pemandu teksi, saya sendiri tidak tahu apa perkataan yang harus saya ucapkan dek penguasaan bahasa negara itu yang sangat limited. Salah sendiri. Lalu saya hanya mampu meluahkan rasa tidak puas hati pada Pidah. Geram bila rasa ditipu hidup-hidup oleh si pemandu. Seingat saya meter tambang menunjukkan hampir ke 30 złotych, tiga kali ganda lebih dari harga biasa.

Saya membebel-bebel tanpa henti di dalam teksi menggunakan bahasa Melayu. Pidah mendengar, dan kadang kala menyampuk. Pidah juga tidak puas hati tetapi saya yang lebih radikal meluahkan segala rasa. Geram dan marah menguasai diri saat itu.

Saat teksi berhenti di luar bangunan apartment yang kami duduki..

"Ile? (berapa?)" soal kami, walaupun mata jelas menangkap nombor-nombor yang terpapar di meter tambang. Hampir atau lebih 30 złotych, saya sendiri kurang ingat.

"Tylko dziesięć złotych." balas si pemandu.

Saat itu, saya sebu dengan seribu satu rasa. Walaupun meter tambang menunjukkan harga yang agak tinggi untuk kami, pak cik si pemandu sekadar meminta kami menghulurkan 10 złotych. 'Hanya 10 złotych' katanya.

Bersalah. Sudah tentu. Entah apa yang saya dan Pidah hamburkan kepadanya di dalam teksi sebentar tadi. Sedih. Dengan diri sendiri yang mudah melatah dan susah benar mahu berlapang dada dan bersangka baik pada tamparan pertama. Geram. Juga dengan diri sendiri. Kerana wang, saya bertindak seperti manusia yang langsung tidak pernah menerima tarbiyyah. Allahu.

"Rasa macam nak bagi je 30 dekat pakcik tadi." sebaik sahaja teksi pak cik meluncur pergi.

***

Point saya dalam entry ini:

Wang bukan segala-galanya, namun segala-galanya mampu berubah kerana wang.

Wang bukan benda paling penting dalam dunia, tapi ada negara yang tergadai kerana wang, maruah yang tergadai kerana wang, hubungan yang tergadai kerana wang. 

Bila manusia bertuhankan wang, inilah yang terjadi.

Wang boleh merubah sikap manusia. Dari lemah-lembut menjadi bengis dan tidak berhati perut. Seperti saya, yang begitu mudah melenting dalam situasi di atas.

Namun..

Sikap manusia juga boleh merubah bagaimana pandangan kita terhadap wang. Seperti saya dan Pidah, juga dalam situasi di atas. Kerana ketulusan si pak cik teksi, serta-merta saya dan Pidah tidak kisah jika perlu membayar lebih dari yang sepatutnya.

Lihatlah di mana kita meletakkan kedudukan wang dalam kehidupan kita. Sedih dan sadis jika wang membuatkan kita membenci seseorang, atau memutuskan hubungan kita dengan seseorang. Wang itu keperluan untuk hidup, namun sedikit pun tidak dipandang oleh orang yang bakal mati. Ada beza antara orang yang merasakan dia hidup dan orang yang merasakan dia bakal mati. ;)

post script 1: tiba-tiba teringatkan kisah ini, kerana sesuatu yang terjadi pada saya hari ini. Muhasabah. Sabar. Cool. Eceh.

post script 2: semoga pak cik teksi memaafkan saya dan Pidah, walau pak cik teksi mesti macam termangu-mangu saat kami mengucapkan 'przepraszam' instead of 'dziękuję' semasa menghulurkan wang tambang.